Beranda/Media Center

Artikel · 28 Juni 2026 · 5 mnt baca

Mengapa Gula Semut Bisa Menghidupi Satu Kampung

Perjalanan komunitas petani mewujudkan kemandirian dan membangkitkan ekonomi desa lewat produk unggulan mereka.

Selama puluhan tahun kelapa di desa ini dijual sebagai buah utuh kepada pengepul yang datang seminggu sekali. Harganya ditentukan di kabin truk, bukan di kebun. Ketika harga jatuh, yang bisa dilakukan petani hanya satu: menunggu.

Gula semut membalik urutan itu. Nira yang dulu terbuang kini dimasak, dikristalkan, dan dikemas di desa sendiri. Satu pohon yang semula menghasilkan buah seharga ribuan rupiah menjadi produk berharga puluhan ribu — bukan karena keajaiban pasar, melainkan karena pekerjaan tambahannya tidak lagi dikerjakan orang lain di kota.

Yang paling mahal ternyata bukan mesinnya, melainkan kepercayaan bahwa mutu bisa dijaga bersama: kadar air yang seragam, warna yang konsisten, catatan panen yang rapi. Butuh dua tahun sebelum satu batch benar-benar lolos standar pembeli.

Hari ini koperasi desa mengelola sebelas produk turunan dari pohon yang sama. Sebagian labanya masuk ke dana pendidikan — sehingga sekarung gula semut yang dikirim ke kota diam-diam juga membiayai sekolah anak-anak yang menanamnya.